Social Icons

Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket

Site Info

Tuesday, 22 March 2016

Kisah Nabi Hud a.s


Nabi Hud as.
Garis keturunan :Keturunan:
Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Iram (Aram) ⇒ ‘Aush (‘Uks) ⇒ ‘Aad ⇒ al-Khulud ⇒ Rabah ⇒Abdullah ⇒ Hud as
Usia: 130 tahun
Periode sejarah: 2450 – 2320 SM
Tempat diutus (lokasi): Al-Ahqaf (lokasinya antara Yaman dan Oman)
Jumlah keturunannya (anak): –
Tempat wafat: Bagian Timur Hadramaut (Yaman)
Sebutan kaumnya: Kaum ‘Aad


Pendahuluan


Nama ‘Aad’ sudah tidak asing lagi dalam sejarah Nabi Hud AS. la merupakan suatu suku yang tertua sesudah kaum Nabi Nuh. Nabi Hud diutus untuk kaum ‘Aad. Beliau bernama Hud bin Syalakh bin Arfakhsyad bin Sam bin Nuh ‘Alaihissalam. Dikatakan juga bahwa beliau adalah Abir bin Syalakh bin Arfakhsyad bin Sam bin Nuh. Atau ada juga yang menyebut beliau dengan Hud bin ‘Abdullah bin Rabbah bin Al-Jarud bin ‘Aad bin Aus bin Irm bin Sam bin Nuh. Demikianlah yang disebutkan oleh Ibnu Jarir. [Tarikh Ath-Thabari 1/133].
Kaum ‘Aad merupakan bangsa Arab yang menempati Al-Ahqaf yaitu bukit-bukit pasir. Tempat itu terletak di Yaman dari Amman dan Hadhramaut di sebuah tempat yang dekat dengan laut, disebut juga Asy-Syahr. Nama lembahnya adalah Mughits, kaum ‘Aad lebih banyak tinggal di perkemahan yang memiliki pasak tiang-tiang yang besar dan tinggi sebagaimana firman Allah Ta’ala :


Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Robb-mu berbuat terhadap kaum ‘Aad? (yaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi. (QS. Al Fajr, 89:6-7).

 
Maksudnya adalah kaum ‘Aad Iram. Kaum ini adalah kaum ‘Aad yang pertama, sedangkan kaum ‘Aad yang kedua maka mereka adalah yang terakhir. Kaum ‘Aad hidup berkelompok-kelompok seperti qabilah dan mereka mempunyai keahlian membangun bangunan yang tinggi-tinggi seperti baru saja disebutkan dalam firman Allah Ta’ala. Sebagian ulama dan ahli sejarah mengatakan Nabi Hud ‘Alaihissalam adalah orang pertama yang berbicara dengan bahasa Arab. Wahb bin Munabbih menyebutkan bahwa ayahnya Nabi Hud yang pertama kali berbicara dengan bahasa Arab. Sebagian mereka berkata bahwa Nuh-lah yang pertama kali berbicara dengan bahasa Arab, sementara yang lainnya berkata bahwa ia adalah Adam. Allahu a’lam.
Diriwayatkan bahwa bangsa Arab sebelum Isma’il adalah bangsa Arab Aribah, mereka merupakan suatu kabilah yang banyak, diantara mereka adalah ‘Aad, Tsamud, Jurhum, Thasm, Jadis, Umaim, Madyan, Imlaq, Abil, Jasim, Qaththan dan lainnya.


Dalam Shahih Ibnu Hibban, diriwayatkan dari sahabat Abu Dzar -radhiyAllahu ‘anhu- dalam sebuah hadits yang panjang setelah menyebutkan kisah para Nabi dan Rasul, Rasulullah bersabda, “…Dari mereka terdapat 4 orang Arab yaitu Hud, Shalih, Syu’aib dan Nabimu wahai Abu Dzar.” [Shahih Ibnu Hibban (361)].
Kaum ‘Aad adalah kaum yang durhaka kepada Allah Ta’ala dengan menjadi kaum yang pertama kali menyembah berhala setelah peristiwa banjir besar dan luluh lantaknya umat manusia yang kafir. Berhala mereka ada tiga yaitu Shad, Shamuda, Hara. Oleh karena itu, Allah Ta’ala mengutus saudara mereka, Hud ‘Alaihissalam untuk mengembalikan mereka kepada aqidah tauhid yang bersih dari syirik. Allah Ta’ala berfirman :
“Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum ‘Aad saudara mereka Hud, Ia berkata “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Robb bagimu selain dari-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertaqwa kepada-Nya ?”. (QS. Al A’rof, 7:65).
Allah SWT telah memberikan mereka tubuh besar dan kuat, sebagaimana terekam dalam firman-Nya:
Apakah kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepadamu peringatan dari Robb-mu yang dibawa oleh seorang laki-laki di antaramu untuk memberi peringatan kepadamu? dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah lenyapnya kaum Nuh, dan Dia telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (daripada kaum Nuh itu). Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. (QS. Al-A’raf, 7: 69).
Kaum ‘Aad adalah kabilah Arab yang tinggal di bagian selatan Jazirah Arab setelah kaum Nabi Nuh yang beriman selamat dari banjir dahsyat. Mereka lalu membangun rumah, perindustrian, dan memiliki peradaban maju yang belum pernah ada sebelumnya. Allah melukiskan kota mereka dalam firman-Nya,
“Tidakkah engkau (Muhammad) memerhatikan bagaimana Rabb-mu berbuat terhadap (kaum) ‘Aad? (Yaitu) penduduk Iram (ibu kota kaum ‘Aad) yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi, yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain,” (QS. Al-Fajr , 89: 6-8).
Para sejarawan menggambarkan secara detail kota ini dengan menyebutkan berbagai istana mereka yang begitu besar, megah, dihiasi batu-batu permata, dan dikelilingi pagar-pagar tinggi. Beragam nikmat dan kebaikan yang melimpah ruah ini selayaknya mereka syukuri. Akan tetapi, mereka justru tenggelam dalam kenikmatan-kenikmatan fisik dan kesenangan duniawi. Mereka lantas menyembah tiga berhala, yaitu Shada, Shamud, dan Haba.
Al-Qur’an menyebutkan wilayah kaum ‘Aad terbatas di daerah al-Ahqaf. Al-Ahqaf ialah jamak dari hiqf yang berarti padang pasir. Al-Qur’an tidak menentukan lokasi tepatnya. Akan tetapi beberapa ahli menyebutkan bahwa wilayah itu berada diantara Yaman dan Oman.


Majalah A m’intresse Prancis menjelaskan motif hancurnya peradaban kota Iram atau Ubar. Kota tersebut telah dilanda badai pasir yang sangat dahsyat. Badai pasir itu telah mampu menimbun kota tersebut dengan ketebalan mencapai sekitar 12 meter. Peristiwa ini dikuatkan juga oleh Al-Qur’an dalam surah Fushshilat.
Maka Kami meniupkan angin yang amat gemuruh kepada mereka dalam beberapa hari yang sial, karena Kami hendak merasakan kepada mereka itu siksaan yang menghinakan dalam kehidupan dunia. dan sesungguhnya siksa akhirat lebih menghinakan sedang mereka tidak diberi pertolongan. (QS. Fushshilat, 41: 16).
Data sejarah mengungkapkan bahwa di wilayah al-ahqaf telah terjadi perubahan iklim dari tanah subur menjadi gurun sahara. Sebelumnya, daerah tersebut merupakan tanah yang produktif; wilayahnya luas dan membentang hijau, seperti yang diinformasikan Al-Qur’an labih dari 1400 tahun yang lalu.


Gambar yang diperoleh salah satu satelit buatan milik Badan Antariksa Amerika Serikat (USA), NASA tahun 1990 telah mengungkap tentang sistem saluran dan bendungan kuno yang pernah dipergunakan kaum ‘Aad sebagai irigasi. Bendungan dan saluran air ini mampu memasok kebutuhan air untuk masyarakat sampai 200.000 orang. Hal itu sebagaimana pengambilan gambar aliran dua sungai kering yang berada di dekat pemukiman kaum ‘Aad. Salah seorang peneliti yang melakukan penelitian di wilayah tersebut menyebutkan bahwa wilayah yang berada di sekitar kota Ma’rib sangat subur. Dipastikan seluruh daerah yang membentang antara kota Ma’rib dan Hadramaut adalah perkebunan.



Adakah anda merasakan artikel saya ini berguna? Jika ya kongsi dengan rakan anda : Jika anda suka dengan artikel saya, pastikan anda Langgan melalui RSS feed! atau Langgan Blog Rahman Bashri melalui Emaili Komen anda sangat berguna untuk saya memperbaiki Blog Rahman Bashri..Terima Kasih

0 Comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...