Social Icons

Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket

Site Info

Tuesday, 22 March 2016

Murah Rezeki



1) SEDEKAH


Adakah anda pernah membaca tentang faedah bersedekah?
.
+ sedekah adalah satu penyucian harta dan jiwa dpt menggandakan kebaikan.
+ sedekah tanda dermawan dan salah satu tanda kemuliaan dan kemurahan hati
+ sedekah memustajabkan doa dan merungkaikan segala kesulitan.
 
2) SOLAT JANGAN TINGGAL
 
 
Pesan yang secara tidak langsung memerintahkan untuk menyerahkan diri ini kepada Sang Pemiliknya. Diri yang pada hakikatnya berasal dan akan kembali kepada-Nya.

Wajarlah jika manusia itu tak punya apapun di dunia ini. Sekumpulan amal kebaikan dan ibadahlah yang akan dibawa kelak mendampingi ketika menghadapi peradilan-Nya.
 
3) SOLAT DHUHA JANGAN TINGGAL
 
 Waktu sembahyang Dhuha ialah dari naik matahari sampai sepenggalah dan berakhir di waktu matahari tergelincir tetapi disunatkan dita’khirkan sehingga matahari naik tinggi dan panas terik. Cara menunaikannya pula adalah sama seperti sembahyang-sembahyang sunat yang lain iaitu dua rakaat satu salam. Boleh juga dikerjakan empat rakaat, enam rakaat dan lapan rakaat. Menurut sebahagian ulama jumlah rakaatnya tidak terbatas dan tidak ada dalil yang membatasi jumlah rakaat secara tertentu.
 
4) SELALULAH BERSELAWAT 
 
5) BERZIKIR
 
6) ISTIGHFAR
 
7) DOAKAN UNTUK IBU BAPA
 
8) BANTU ORANG SEKELILING
 
9) MEMINTA MAAF DAN MEMAAFKAN KESALAHAN ORANG LAIN
 
10) AMALKAN MEMBACA SURAH AL-WAQIAH

Adakah anda merasakan artikel saya ini berguna? Jika ya kongsi dengan rakan anda : Jika anda suka dengan artikel saya, pastikan anda Langgan melalui RSS feed! atau Langgan Blog Rahman Bashri melalui Emaili Komen anda sangat berguna untuk saya memperbaiki Blog Rahman Bashri..Terima Kasih

Kisah Nabi Hud a.s


Nabi Hud as.
Garis keturunan :Keturunan:
Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Iram (Aram) ⇒ ‘Aush (‘Uks) ⇒ ‘Aad ⇒ al-Khulud ⇒ Rabah ⇒Abdullah ⇒ Hud as
Usia: 130 tahun
Periode sejarah: 2450 – 2320 SM
Tempat diutus (lokasi): Al-Ahqaf (lokasinya antara Yaman dan Oman)
Jumlah keturunannya (anak): –
Tempat wafat: Bagian Timur Hadramaut (Yaman)
Sebutan kaumnya: Kaum ‘Aad


Pendahuluan


Nama ‘Aad’ sudah tidak asing lagi dalam sejarah Nabi Hud AS. la merupakan suatu suku yang tertua sesudah kaum Nabi Nuh. Nabi Hud diutus untuk kaum ‘Aad. Beliau bernama Hud bin Syalakh bin Arfakhsyad bin Sam bin Nuh ‘Alaihissalam. Dikatakan juga bahwa beliau adalah Abir bin Syalakh bin Arfakhsyad bin Sam bin Nuh. Atau ada juga yang menyebut beliau dengan Hud bin ‘Abdullah bin Rabbah bin Al-Jarud bin ‘Aad bin Aus bin Irm bin Sam bin Nuh. Demikianlah yang disebutkan oleh Ibnu Jarir. [Tarikh Ath-Thabari 1/133].
Kaum ‘Aad merupakan bangsa Arab yang menempati Al-Ahqaf yaitu bukit-bukit pasir. Tempat itu terletak di Yaman dari Amman dan Hadhramaut di sebuah tempat yang dekat dengan laut, disebut juga Asy-Syahr. Nama lembahnya adalah Mughits, kaum ‘Aad lebih banyak tinggal di perkemahan yang memiliki pasak tiang-tiang yang besar dan tinggi sebagaimana firman Allah Ta’ala :


Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Robb-mu berbuat terhadap kaum ‘Aad? (yaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi. (QS. Al Fajr, 89:6-7).

 
Maksudnya adalah kaum ‘Aad Iram. Kaum ini adalah kaum ‘Aad yang pertama, sedangkan kaum ‘Aad yang kedua maka mereka adalah yang terakhir. Kaum ‘Aad hidup berkelompok-kelompok seperti qabilah dan mereka mempunyai keahlian membangun bangunan yang tinggi-tinggi seperti baru saja disebutkan dalam firman Allah Ta’ala. Sebagian ulama dan ahli sejarah mengatakan Nabi Hud ‘Alaihissalam adalah orang pertama yang berbicara dengan bahasa Arab. Wahb bin Munabbih menyebutkan bahwa ayahnya Nabi Hud yang pertama kali berbicara dengan bahasa Arab. Sebagian mereka berkata bahwa Nuh-lah yang pertama kali berbicara dengan bahasa Arab, sementara yang lainnya berkata bahwa ia adalah Adam. Allahu a’lam.
Diriwayatkan bahwa bangsa Arab sebelum Isma’il adalah bangsa Arab Aribah, mereka merupakan suatu kabilah yang banyak, diantara mereka adalah ‘Aad, Tsamud, Jurhum, Thasm, Jadis, Umaim, Madyan, Imlaq, Abil, Jasim, Qaththan dan lainnya.


Dalam Shahih Ibnu Hibban, diriwayatkan dari sahabat Abu Dzar -radhiyAllahu ‘anhu- dalam sebuah hadits yang panjang setelah menyebutkan kisah para Nabi dan Rasul, Rasulullah bersabda, “…Dari mereka terdapat 4 orang Arab yaitu Hud, Shalih, Syu’aib dan Nabimu wahai Abu Dzar.” [Shahih Ibnu Hibban (361)].
Kaum ‘Aad adalah kaum yang durhaka kepada Allah Ta’ala dengan menjadi kaum yang pertama kali menyembah berhala setelah peristiwa banjir besar dan luluh lantaknya umat manusia yang kafir. Berhala mereka ada tiga yaitu Shad, Shamuda, Hara. Oleh karena itu, Allah Ta’ala mengutus saudara mereka, Hud ‘Alaihissalam untuk mengembalikan mereka kepada aqidah tauhid yang bersih dari syirik. Allah Ta’ala berfirman :
“Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum ‘Aad saudara mereka Hud, Ia berkata “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Robb bagimu selain dari-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertaqwa kepada-Nya ?”. (QS. Al A’rof, 7:65).
Allah SWT telah memberikan mereka tubuh besar dan kuat, sebagaimana terekam dalam firman-Nya:
Apakah kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepadamu peringatan dari Robb-mu yang dibawa oleh seorang laki-laki di antaramu untuk memberi peringatan kepadamu? dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah lenyapnya kaum Nuh, dan Dia telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (daripada kaum Nuh itu). Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. (QS. Al-A’raf, 7: 69).
Kaum ‘Aad adalah kabilah Arab yang tinggal di bagian selatan Jazirah Arab setelah kaum Nabi Nuh yang beriman selamat dari banjir dahsyat. Mereka lalu membangun rumah, perindustrian, dan memiliki peradaban maju yang belum pernah ada sebelumnya. Allah melukiskan kota mereka dalam firman-Nya,
“Tidakkah engkau (Muhammad) memerhatikan bagaimana Rabb-mu berbuat terhadap (kaum) ‘Aad? (Yaitu) penduduk Iram (ibu kota kaum ‘Aad) yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi, yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain,” (QS. Al-Fajr , 89: 6-8).
Para sejarawan menggambarkan secara detail kota ini dengan menyebutkan berbagai istana mereka yang begitu besar, megah, dihiasi batu-batu permata, dan dikelilingi pagar-pagar tinggi. Beragam nikmat dan kebaikan yang melimpah ruah ini selayaknya mereka syukuri. Akan tetapi, mereka justru tenggelam dalam kenikmatan-kenikmatan fisik dan kesenangan duniawi. Mereka lantas menyembah tiga berhala, yaitu Shada, Shamud, dan Haba.
Al-Qur’an menyebutkan wilayah kaum ‘Aad terbatas di daerah al-Ahqaf. Al-Ahqaf ialah jamak dari hiqf yang berarti padang pasir. Al-Qur’an tidak menentukan lokasi tepatnya. Akan tetapi beberapa ahli menyebutkan bahwa wilayah itu berada diantara Yaman dan Oman.


Majalah A m’intresse Prancis menjelaskan motif hancurnya peradaban kota Iram atau Ubar. Kota tersebut telah dilanda badai pasir yang sangat dahsyat. Badai pasir itu telah mampu menimbun kota tersebut dengan ketebalan mencapai sekitar 12 meter. Peristiwa ini dikuatkan juga oleh Al-Qur’an dalam surah Fushshilat.
Maka Kami meniupkan angin yang amat gemuruh kepada mereka dalam beberapa hari yang sial, karena Kami hendak merasakan kepada mereka itu siksaan yang menghinakan dalam kehidupan dunia. dan sesungguhnya siksa akhirat lebih menghinakan sedang mereka tidak diberi pertolongan. (QS. Fushshilat, 41: 16).
Data sejarah mengungkapkan bahwa di wilayah al-ahqaf telah terjadi perubahan iklim dari tanah subur menjadi gurun sahara. Sebelumnya, daerah tersebut merupakan tanah yang produktif; wilayahnya luas dan membentang hijau, seperti yang diinformasikan Al-Qur’an labih dari 1400 tahun yang lalu.


Gambar yang diperoleh salah satu satelit buatan milik Badan Antariksa Amerika Serikat (USA), NASA tahun 1990 telah mengungkap tentang sistem saluran dan bendungan kuno yang pernah dipergunakan kaum ‘Aad sebagai irigasi. Bendungan dan saluran air ini mampu memasok kebutuhan air untuk masyarakat sampai 200.000 orang. Hal itu sebagaimana pengambilan gambar aliran dua sungai kering yang berada di dekat pemukiman kaum ‘Aad. Salah seorang peneliti yang melakukan penelitian di wilayah tersebut menyebutkan bahwa wilayah yang berada di sekitar kota Ma’rib sangat subur. Dipastikan seluruh daerah yang membentang antara kota Ma’rib dan Hadramaut adalah perkebunan.



Adakah anda merasakan artikel saya ini berguna? Jika ya kongsi dengan rakan anda : Jika anda suka dengan artikel saya, pastikan anda Langgan melalui RSS feed! atau Langgan Blog Rahman Bashri melalui Emaili Komen anda sangat berguna untuk saya memperbaiki Blog Rahman Bashri..Terima Kasih

Kisah Nabi Nuh a.s



Bismi-llahi ar-rahmani ar-rahimi"
(Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang)

Nabi Nuh a.s. adalah rasul Allah yang merupakan keturunan kesepuluh dari nabi Adam a.s. Diutus oleh Allah s.w.t. di negri Armenia. Beliau mengajarkan kaumnya untuk menyembah kepada Allah dan melarang kaumnya memperhambakan diri kepada selain Allah.

Mulai usia Nabi Nuh a.s 40 tahun hingga 950 tahun beliau mengembangkan ajaran-ajaran agama Allah s.w.t. akan tetapi manusia diwaktu itu tidak memperdulikan seruan dan ajaran agama Allah tersebut. Bahkan sebaliknya mereka memperolok dan bahkan membenci kepada Nabi Nuh a.s. sehingga hanya sedikit sekali yang mau beriman kepada Allah s.w.t.

Untuk hal itu Nabi Nuh a.s. menangis karena sedihnya atas keingkaran kaumnya tersebut. Selama ratusan tahun beliau menjalankan tugas kerasulan, hanya sedikit sekali yang mau beriman kepada Allah s.w.t. karena itulah Allah menyuruh Nabi Nuh a.s. untuk membuat perahu, karena Allah bermaksud untuk menenggelamkan kaum yang durhaka itu

Tidak lama setelah selesainya kapal kayu besar Nabi Nuh a.s. berhembuslah angin taufan yang sangat dahsyat. Hujan turun dengan lebat, mata air bersemburan dari mana-mana yang terus menerus tak henti-hentinya selama berhari-hari. Air pun bertambah tinggi dan bumi berubah menjadi lautan yang sangat luas.

Nabi Nuh a.s. melaksanakan perintah Tuhan, naiklah beliau dengan orang-orang yang beriman keatas bahtera sehingga selamatlah mereka dari banjir yang sangat dahsyat. Ditengah kapal sedang berlayar, tampaklah oleh Nabi Nuh a.s. anaknya yang hampir tenggelam. Maka berserulah Nabi Nuh a.s. "Hai anakku! naiklah ke kapal bersama kami, dan janganlah engkau menjadi manusia yang ingkar terhadap Allah!".

Akan tetapi anak Nabi Nuh a.s. menolak seruan bapaknya dan berusaha berenang ke arah gunung. Namun air bah segera menenggelamkannya. Menyaksikan hal itu Nabi Nuh a.s. sangat sedih, begitu sedihnya sehingga Nabi Nuh a.s. menyeru kepada Allah s.w.t. "O, Tuhanku! anak ku telah mati tenggelam, sedangkan ia termasuk keluarga ku, padahal Tuhan telah berjanji akan menyelamatkan kami!"

Allah berfirman :"Hai Nuh! sesungguhnya orang-orang yang durhaka itu bukanlah termasuk keluarga mu!"

Menerima firman Tuhan tersebut, Nabi Nuh a.s. dengan sangat takutnya meminta ampun kepada Allah karena telah berkata dengan tak tahu apa yang dilarang oleh Allah, yaitu meminta agar anaknya diselamatkan, padahal anaknya termasuk golongan orang yang durhaka. Setelah orang kafir ditelan oleh air, tinggallah orang-orang yang beriman yang mulai menempuh hidup baru dibawah bimbingan Nabi Nuh a.s.

Nabi Nuh a.s. wafat pada usia 950 tahun, akan tetapi selama beliau melaksanakan tugas kerasulannya hanya sedikit sekali yang mau beriman.



Adakah anda merasakan artikel saya ini berguna? Jika ya kongsi dengan rakan anda : Jika anda suka dengan artikel saya, pastikan anda Langgan melalui RSS feed! atau Langgan Blog Rahman Bashri melalui Emaili Komen anda sangat berguna untuk saya memperbaiki Blog Rahman Bashri..Terima Kasih

Kisah Nabi Idris a.s


Nabi Idris adalah keturunan keenam dari Nabi Adam, putra dari Yarid bin Mihla’iel bin Qinan bin Anusy bin Shiyth bin Adam a.s. yang menjadi keturunan pertama yang diutus menjadi nabi setelah Adam dan Shiyth. Menurut kitab tafsir, beliau hidup 1.000 tahun setelah Nabi Adam wafat.

Nabi Idris dianugerahi kepandaian dalam berbagai disiplin ilmu, kemahiran, serta kemampuan untuk menciptakan alat-alat untuk mempermudah pekerjaan manusia, seperti pengenalan tulisan, matematika, astronomi, dan lain sebagainya. Menurut suatu kisah, terdapat suatu masa di mana kebanyakan manusia akan melupakan Allah sehingga Allah menghukum manusia dengan bentuk kemarau yang berkepanjangan. Nabi Idris pun turun tangan dan memohon kepada Allah untuk mengakhiri hukuman tersebut. Allah mengabulkan permohonan itu dan berakhirlah musim kemarau tersebut dengan ditandai turunnya hujan.

Nabi Idris diperkirakan bermukim di Mesir di mana ia berdakwah untuk menegakkan agama Allah, mengajarkan tauhid, dan beribadah menyembah Allah serta memberi beberapa pendoman hidup bagi pengikutnya supaya selamat dari siksa dunia dan akhirat.

Menurut buku berjudul The Prophet of God Enoch: Nabiyullah Idris, Idris adalah sebutan atau nama Arab bagi Enoch, nenek moyang Nabi Nuh. Beliau dinyatakan di dalam Al-Quran sebagai manusia pilihan Allah sehingga Dia mengangkatnya ke langit. Ibnu Abi Hatim dalam tafsirnya meriwayatkan bahwa Nabi Idris wafat saat beliau sedang berada di langit keempat ditemani oleh seorang malaikat. Beliau hidup sampai usia 82 tahun

1. Nabi Idris Kedatangan Tamu

Nama Nabi Idris as. yang sebenarnya adalah ‘Akhnukh’. Sebab beliau dinamakan Idris, kerana beliau banyak membaca, mempelajari (tadarrus) kitab Allah SWT.

Setiap hari Nabi Idris menjahit qamis (baju kemeja), setiap kali beliau memasukkan jarum untuk menjahit pakaiannya, beliau mengucapkan tasbih. Jika pekerjaannya sudah selesai, kemudian pakaian itu diserahkannya kepada orang yang menempahnya dengan tanpa meminta upah. Walaupun demikian, Nabi Idris masih sanggup beribadah dengan amalan yang sukar untuk digambarkan. Sehingga Malaikat Maut sangat rindu berjumpa dengan beliau.

Kemudian Malaikat Maut bermohon kepada Allah SWT, agar diizinkan untuk pergi menemui Nabi Idris as. Setelah memberi salam, Malaikat pun duduk.

Nabi Idris as. mempunyai kebiasaan berpuasa sepanjang masa. Apabila waktu berbuka telah tiba, maka datanglah malaikat dari Syurga membawa makanan Nabi Idris, lalu beliau menikmati makanan tersebut.

Kemudian baginda beribadah sepanjang malam. Pada suatu malam Malaikat Maut datang menemuinya, sambil membawa makanan dari Syurga. Nabi Idris menikmati makanan itu. Kemudian Nabi Idris berkata kepada Malaikat Maut: “Wahai tuan, marilah kita nikmati makanan ini bersama-sama.” Tetapi Malaikat itu menolaknya.

Nabi Idris terus melanjutkan ibadahnya, sedangkan Malaikat Maut itu dengan setia menunggu sampai terbit matahari. Nabi Idris merasa hairan melihat sikap Malaikat itu.

Kemudian beliau berkata: “Wahai tuan, mahukah tuan bersiar-siar bersama saya untuk melihat keindahan alam persekitaran? Malaikat Maut menjawab: Baiklah Wahai Nabi Allah Idris.”

Maka berjalanlah keduanya melihat alam persekitaran dengan berbagai jenis tumbuh-tumbuhan hidup di situ. Akhirnya ketika mereka sampai pada suatu kebun, maka Malaikat Maut berkata kepada Nabi Idris as.: “Wahai Idris, adakah tuan izinkan saya untuk mengambil ini untuk saya makan? Nabi Idris pun menjawab: Subhanallah, mengapa malam tadi tuan tidak mahu memakan makanan yang halal, sedangkan sekarang tuan mahu memakan yang haram?”

2. Malaekat Izrail mencabut nyawa Nabi Idris atas permintaannya.


Kemudian Malaikat Maut dan Nabi Idris meneruskan perjalanan mereka. Tidak terasa oleh mereka bahawa mereka telah bersiar-siar selama empat hari. Selama mereka bersahabat, Nabi Idris menemui beberapa keanehan pada diri temannya itu. Segala tindak-tanduknya berbeza dengan sifat-sifat manusia biasa. Akhirnya Nabi Idris tidak dapat menahan hasrat ingin tahunya itu.

Kemudian beliau bertanya: “Wahai tuan, bolehkah saya tahu, siapakah tuan yang sebenarnya? Saya adalah Malaikat Maut.”

“Tuankah yang bertugas mencabut semua nyawa makhluk?” “Benar ya Idris.”

“Sedangkan tuan bersama saya selama empat hari, adakah tuan juga telah mencabut nyawa-nyawa makhluk?”

“Wahai Idris, selama empat hari ini banyak sekali nyawa yang telah saya cabut. Roh makhluk-makhluk itu bagaikan hidangan di hadapanku, aku ambil mereka bagaikan seseorang sedang menyuap-nyuap makanan.”

“Wahai Malaikat, apakah tujuan tuan datang, apakah untuk ziarah atau untuk mencabut nyawaku?”

“Saya datang untuk menziarahimu dan Allah SWT telah mengizinkan niatku itu.”

“Wahai Malaikat Maut, kabulkanlah satu permintaanku kepadamu, iaitu agar tuan mencabut nyawaku, kemudian tuan mohonkan kepada Allah agar Allah menghidupkan saya kembali, supaya aku dapat menyembah Allah Setelah aku merasakan dahsyatnya sakaratul maut itu.”

Malaikat Maut pun menjawab: “Sesungguhnya saya tidaklah mencabut nyawa seseorang pun, melainkan hanya dengan keizinan Allah.”

Lalu Allah SWT mewahyukan kepada Malaikat Maut, agar ia mencabut nyawa Idris as. Maka dicabutnyalah nyawa Idris saat itu juga. Maka Nabi Idris pun merasakan kematian ketika itu.

Di waktu Malaikat Maut melihat kematian Nabi Idris itu, maka menangislah ia. Dengan perasaan hiba dan sedih ia bermohon kepada Allah supaya Allah menghidupkan kembali sahabatnya itu. Allah mengabulkan permohonannya, dan Nabi Idris pun dihidupkan oleh Allah SWT kembali.

3. Malaekat Izrail membawaNabi Idris ke Syurga dan ke Neraka

Kemudian Malaikat Maut memeluk Nabi Idris, dan ia bertanya: “Wahai saudaraku, bagaimanakah tuan merasakan kesakitan maut itu? Bila seekor binatang dilapah kulitnya ketika ia masih hidup, maka sakitnya maut itu seribu kali lebih sakit daripadanya. Padahal-kelembutan yang saya lakukan terhadap tuan, ketika saya mencabut nyawa tuan itu, belum pernah saya lakukan terhadap sesiapa pun sebelum tuan. Wahai Malaikat Maut, saya mempunyai permintaan lagi kepada tuan, iaitu saya sungguh-sungguh berhasrat melihat Neraka, supaya saya dapat beribadah kepada Allah SWT lebih banyak lagi, setelah saya menyaksikan dahsyatnya api neraka itu. Wahai Idris as. saya tidak dapat pergi ke Neraka jika tanpa izin dari Allah SWT.”

Akhirnya Allah SWT mewahyukan kepada Malaikat Maut agar ia membawa Nabi Idris ke dalam Neraka. Maka pergilah mereka berdua ke Neraka. Di Neraka itu, Nabi Idris as. dapat melihat semua yang diciptakan Allah SWT untuk menyiksa musuh-musuh-Nya. Seperti rantai-rantai yang panas, ular yang berbisa, kala, api yang membara, timah yang mendidih, pokok-pokok yang penuh berduri, air panas yang mendidih dan lain-lain.

Setelah merasa puas melihat keadaan Neraka itu, maka mereka pun pulang. Kemudian Nabi Idris as. berkata kepada Malaikat Maut: “Wahai Malaikat Maut, saya mempunyai hajat yang lain, iaitu agar tuan dapat menolong saya membawa masuk ke dalam Syurga. Sehingga saya dapat melihat apa-apa yang telah disediakan oleh Allah bagi kekasih-kekasih-Nya. Setelah itu saya pun dapat meningkatkan lagi ibadah saya kepada Allah SWT. Saya tidak dapat membawa tuan masuk ke dalam Syurga, tanpa perintah dari Allah SWT.” Jawab Malaikat Maut.

Lalu Allah SWT pun memerintahkan kepada Malaikat Maut supaya ia membawa Nabi Idris masuk ke dalam Syurga.

Kemudian pergilah mereka berdua, sehingga mereka sampai di pintu Syurga dan mereka berhenti di pintu tersebut. Dari situ Nabi Idris dapat melihat pemandangan di dalam Syurga. Nabi Idris dapat melihat segala macam kenikmatan yang disediakan oleh Allah SWT untuk para wali-waliNya. Berupa buah-buahan, pokok-pokok yang indah dan sungai-sungai yang mengalir dan lain-lain.

Kemudian Nabi Idris berkata: “Wahai saudaraku Malaikat Maut, saya telah merasakan pahitnya maut dan saya telah melihat dahsyatnya api Neraka. Maka mahukah tuan memohonkan kepada Allah untukku, agar Allah mengizinkan aku memasuki Syurga untuk dapat meminum airnya, untuk menghilangkan kesakitan mati dan dahsyatnya api Neraka?”

Maka Malaikat Maut pun bermohon kepada Allah. Kemudian Allah memberi izin kepadanya untuk memasuki Syurga dan kemudian harus keluar lagi. Nabi Idris pun masuk ke dalam Syurga, beliau meletakkan kasutnya di bawah salah satu pohon Syurga, lalu ia keluar kembali dari Syurga. Setelah beliau berada di luar, Nabi Idris berkata kepada Malaikat Maut: “Wahai Malaikat Maut, aku telah meninggalkan kasutku di dalam Syurga.

Malaikat Maut pun berkata: Masuklah ke dalam Syurga, dan ambil kasut tuan.”

Maka masuklah Nabi Idris, namun beliau tidak keluar lagi, sehingga Malaikat Maut memanggilnya: “Ya Idris, keluarlah!. Tidak, wahai Malaikat Maut, kerana Allah SWT telah berfirman bermaksud:

“Setiap yang berjiwa akan merasakan mati.”


Adakah anda merasakan artikel saya ini berguna? Jika ya kongsi dengan rakan anda : Jika anda suka dengan artikel saya, pastikan anda Langgan melalui RSS feed! atau Langgan Blog Rahman Bashri melalui Emaili Komen anda sangat berguna untuk saya memperbaiki Blog Rahman Bashri..Terima Kasih

Monday, 21 March 2016

Memelihara Janggut Adalah Sunnah Rasulullah SAW


Memelihara Janggut dalam Islam adalah khusus bagi laki-laki (bukan pada wanita) dan bagi mereka yang memang Allah dikurniakan janggut yang tumbuh di pipi dan dagunya. Jika memang seseorang yang "dari sananya" tidak tumbuh janggut, tentu tidak dikenakan kewajiban (memelihara) janggut. Allah telah berfirman: 
"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya," [QS. Al-Baqarah: 286].

Ada begitu banyak hadis Nabi yang menyuruh lelaki untuk memelihara janggut.

"Potong pendeklah misai dan biarkanlah (peliharalah) janggut." (HR. Muslim no. 623)

"Selisilah orang-orang musyrik. Potong pendeklah misai dan biarkanlah janggut. "(HR. Muslim no. 625)

"Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan untuk memotong pendek misai dan membiarkan (memelihara) janggut." (HR. Muslim no. 624)

"Pendekkanlah misai dan biarkanlah (perihalah) janggut dan selisilah Majusi." (HR. Muslim no. 626)

Selain dalil-dalil di atas, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam juga sangat tidak suka melihat orang yang janggutnya dalam keadaan tercukur.

Ketika Kisro (penguasa Persia) mengutus dua orang untuk menemui Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Mereka menemui beliau dalam keadaan janggut yang tercukur dan misai yang lebat. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak suka melihat kedua-duanya. Beliau bertanya, "Celaka kalian! Siapa yang memerintahkan kamu seperti ini? "Keduanya berkata," Tuan kami (iaitu Kisra) memerintahkan kami seperti ini. "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda," Akan tetapi, Rabb-ku memerintahkanku untuk memelihara janggutku dan menggunting kumisku. "(HR . Thabrani, Hasan. Dinukil dari Minal Hadin Nabawi I'faul Liha)

Lihatlah saudaraku, dalam hadis yang telah kami bawakan di atas menunjukkan bahawa memelihara janggut adalah suatu perintah. Memangkasnya dicela oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Menurut kaedah dalam Ilmu Ushul Fiqh, "Al Amru lil wujub" iaitu setiap perintah menunjukkan suatu kewajipan. Sehingga memelihara janggut yang tepat bukan hanya sekadar anjuran, namun suatu kewajipan. Di samping itu, maksud memelihara janggut adalah untuk menyelisihi orang-orang musyrik dan Majusi serta perbuatan ini adalah fithrah manusia yang dilarang untuk diubah.

Melalui hadis-hadis di atas, memelihara janggut tidak selalu Nabi kaitkan dengan menyelisihi orang kafir. Hanya dalam beberapa hadits namun tidak semua, Nabi kaitkan dengan menyelisihi Musyrikin dan Majusi. Sehingga tidaklah benar anggapan bahawa perintah memelihara janggut dikaitkan dengan menyelisihi Yahudi.

Maka sudah sewajarnya setiap muslim memperhatikan perintah Nabi dan celaan beliau terhadap orang-orang yang menggunting janggutnya. Jadi yang lebih tepat dilakukan adalah memelihara janggut dan memendekkan misai.
Diterjemahkan oleh Detik Islam
Adakah anda merasakan artikel saya ini berguna? Jika ya kongsi dengan rakan anda : Jika anda suka dengan artikel saya, pastikan anda Langgan melalui RSS feed! atau Langgan Blog Rahman Bashri melalui Email Komen anda sangat berguna untuk saya memperbaiki Blog Rahman Bashri..Terima Kasih

Sunday, 20 March 2016

Ziarah Kerana Allah Akan Dicintai Allah



عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ رَجُلًا زَارَ أَخًا لَهُ فِي قَرْيَةٍ أُخْرَى فَأَرْصَدَ اللَّهُ لَهُ عَلَى مَدْرَجَتِهِ مَلَكًا فَلَمَّا أَتَى عَلَيْهِ قَالَ أَيْنَ تُرِيدُ قَالَ أُرِيدُ أَخًا لِي فِي هَذِهِ الْقَرْيَةِ قَالَ هَلْ لَكَ عَلَيْهِ مِنْ نِعْمَةٍ تَرُبُّهَا قَالَ لَا غَيْرَ أَنِّي أَحْبَبْتُهُ فِي اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ قَالَ فَإِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكَ بِأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَبَّكَ كَمَا أَحْبَبْتَهُ فِيهِ

Dari Abu Hurairah dari Nabi SAW,

"Bahawasanya seorang lelaki mengunjungi saudaranya di kampung lain. Kemudian Allah mengutus malaikat untuk menemui orang tersebut. Ketika orang itu ditengah perjalanannya ke kampung yang dituju, maka malaikat tersebut bertanya; Kemana kamu hendak pergi? ' Orang itu menjawab; Aku ingin mengunjungi saudara ku yang berada di kampung ini.' Malaikat itu terus bertanya kepadanya; 'Apakah kamu mempunyai suatu tujuan yang menguntungkan bila bertemunya? ' Laki-laki itu menjawab; 'Tidak, aku hanya mencintainya kerana Allah. Malaikat itu berkata; 'Sesungguhnya aku ini adalah malaikat utusan Allah yang diutus untuk memberitahu kepadamu bahwasanya Allah mencintaimu sebagaimana kamu mencintai saudaramu karena Allah.'
(HR Muslim No: 4656)

Pengajaran:
1. Saling menziarahi antara sesama Muslim akan mengeratkan hubungan ukhuwah sesama mereka.

2. Antara adab berziarah ialah menghadirkan niat yang baik semata-mata atas dasar cinta kerana Allah.

3. Orang yang menziarahi saudaranya semata-mata kerana Allah, Allah akan mencintainya seperti cintanya kepada saudaranya.

P/s : Manfaatkan cuti dihujung minggu menziarahi sanak saudara dan sahabat handai kerana Allah.

Insert the Special code here
Adakah anda merasakan artikel saya ini berguna? Jika ya kongsi dengan rakan anda : Jika anda suka dengan artikel saya, pastikan anda Langgan melalui RSS feed! atau Langgan Blog Rahman Bashri melalui Emaili Komen anda sangat berguna untuk saya memperbaiki Blog Rahman Bashri..Terima Kasih
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...